Duh! 250 Hektar Sawah di Kawasan Food Estate Pulang Pisau Siap Panen Raya

Duh! 250 Hektar Sawah di Kawasan Food Estate Pulang Pisau Siap Panen Raya

Kepala Badalai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) Syamsuddin mengungkapkan, Pengembangan food estate di kawasan Center of Excellent Pulang Pisau, Kalteng, menunjukan hasil positif.

“Saat ini, Kami sedang mempersiapkan panen raya yang direncanakan pada Minggu pertama Februari, sekitar 200 hingga 250 hektar (ha),” kata Syamsuddin melalui keterangan pers yang diterima Kompas.com, Minggu (31/1/2021).

Lebih lanjut, Syamsuddin menegaskan, pihaknya pun sudah melihat kondisi lahan dan pertanaman, sehingga memang benar-benar siap dilakukan dalam waktu dekat.

Mengenai hasil panen, Syamsuddin menyampaikkan, produktivitas yang diperoleh sangat beragam. Namun, pada prinispnya, produksi yang dihasilkan sekitar 4-6 ton per ha.

“Semua itu berdasarkan pengakuan riil para petani yang telah melakukan panen juga dari wujud tanaman di lapangan,” ungkapnya.

Seperti hasil panen padi milik Taufik yang berasal dari Poktan Karya Makmur, Desa Belanti Siam, cotohnya.

Dilaporkan, Taufik memperoleh peningkatan hasil signifikan setelah menanam padi inpari 42. Bahkan, ia dapat menghasilkan 6,4 ton padi per ha dan siap dijadikan benih kembali.

Sama halnya dengan lahan padi milik Wasis Daryanto dari Kelompok Tani Rukun Santoso di Desa Belanti Siam, Kabupaten Pulang Pisau.

Ia menuturkan, berkat program food estate, dirinya berhasil meningkatkan produktivitas panen. Saat ini, lahannya telah panen di blok Rey 6 dan menghasilkan 5,6 ton padi per ha.

Namun, keberhasilan tersebut bukan tanpa kendala. Syamsudin bercerita, munculnya angin kencang di kawasan Pulang Pisau menyebabkan banyak tanaman roboh.

"Kenapa dapat roboh, ini juga turut dipengaruhi faktor kebiasaan petani. Mereka tidak melakukan tanam pindah. Kami merekomendasikan tanam pindah, akan tetapi kebiasaan petani adalah tanam tabur atau dilarik," jelas Syamsudin.

Syamsudin menambahkan, model tanam tabur atau larikan, jika dilihat dari segi kekokohan akar, tidak sekuat model tanam pindah.

Hal itu telah dihinggakan salah satu ketua kelompok tani di lapangan. Ia mengakui, tanaman model tanam pindah lebih kuat dalam menghadai terjangan angin kencang.

"Soal tanaman roboh, sebagian petani umumnya memanen dengan kondisi seadanya, atau tanaman dalam kondisi hijau, dan belum matang maksimal atau matang fungsional, berada di 85 hingga 95 persen," papar Syamsuddin.

Dengan kondisi tersebut, imbuh dia, hasil dari gabah tidak akan maksimal karena berada pada posisi hampa atau ringan saat dikeringkan, dan secara langsung akan menurunkan nilai timbang atau produktivitasnya.

Maksimalkan potensi lahan

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo (SYL) mengungkapkan, pihaknya akan memaksimalkan semua potensi yang ada untuk segera mencetuskan mekanisme penanaman lahan kembali.

"Setelah dilakukan panen raya nanti, gunakan semua kekuatan untuk dapat menanam lagi dengan baik, sehingga 100 hari kemudian diharapkan dapat panen kembali," ujar Mentan Syahrul Yasin Limpo, Minggu (31/1/2020).

Syahrul juga menjelaskan, program tersebut merupakan proyek percontohan nasional, sebagaimana arahan dari Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Menurutnya, program ini dipersiapkan untuk meningkatkan produktivitas pertanian, di antaranya dengan pengembangan berbagai komoditas, mekanisasi, pemberdayaan petani, hingga industri pengolahan.

"Meski demikian, manusia tetap menjadi bagian dari kekuatan yang ada, terutama masyarakat setempat. Saya minta harus off farm-nya, itu artinya industri pengolahannya. RMU misalnya, meningkatkan industri-industri yang mampu dipasarkan, baik secara marketplace, pasar tradisional, serta ekspor," tuturnya.

Terpisah, Dirjen Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Sarwo Edhy menyampaikan bahwa pengembangan lahan rawa sebagai lahan pangan masa kini dan masa depan dinilai sangat prospektif dan strategis.

"Ini berguna untuk mendukung ketahanan pangan, mengingat pertambahan jumlah penduduk yang sangat cepat disatu sisi lahan pertanian banyak yang beralih fungsi," ujarnya.

Saat ini, sambung Sarwo, kontribusi produksi pertanian lahan rawa pada pangsa produksi pangan nasional masih rendah karena terkendala kondisi lahan yang masih marjinal, tata kelola air yang perlu diperbaiki, budaya lokal, serta keterbatasan sumber daya manusia (SDM) yang akan mengelola lahan pertanian.

“Maka pengembangan kawasan tanaman pangan skala luas (food estate) di lahan rawa Kalteng merupakan upaya terobosan peningkatan produksi pangan dan stok cadangan pangan nasional terutama untuk mengantisipasi dampak pandemi Covid-19.” papar Sarwo.

Sebagai informasi, pengembangan kawasan food estate di Lahan Rawa Kalteng dilaksanakan pada pengembangan komoditas utama (padi) melalui pola intensifikasi dan ekstensifikasi lahan.

Pengembangan ini sejalan dengan pengembangan komoditas pendukung hortikultura, peternakan, dan perkebunan pada area food estate.

Selain itu, pengembangan didasarkan pula pada pilot percontohan pengembangan pertanian modern. Dalam hal ini, penguatan kelembagaan tani diharapkan dapat mendukung pengembangan sistem pengelolaan hulu hingga hilir berbasiskan koorporasi petani.

“Dukungan dari lintas kementerian atau lembaga terkait berupa kebijakan pengembangan infrastruktur, penyiapan SDM di lokasi, serta pengelolaan dan pemasaran hasil, sangat diperlukan dalam pengembangan food estate ini," katanya.

 

Aktifkan Notifikasimu

Aktifkan

Ini Berbagai Macam Jenis Iklan di Internet yang Perlu Kamu Ketahui

Contoh Penerapan Algoritma Enkripsi AES di Pemrograman PHP


(KOM)(MLS)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resep Tahu Kering Balado

Laptop Terbaru Harga Terjangkau

Tersangka Korupsi Asabri Adam Damiri Punya Harta Rp10 M